Awal mulai belajar sebagai santri pada pertengahan tahun 80 an sampai awal 90 an di dua tempat yang berbeda, sampai sekarang kenangan tersebut  cukup membekas di hati dan tak terlupakan dalam perjalanan hidup. Kehidupan pesantren tahun itu hampir dialami oleh semua pesantren masih cukup sederhana fasilitas yang ada, namun kesederhanaan semacam ini bisa dikatakan kehidupan  sangat ideal yang didambakan oleh setiap orang yaitu hidup tanpa beban, tidur nyenyak, makan nikmat, badan sehat dan bisa istiqomah beribadah.

Tidak ada beban hidup yang menghantui kehidupan pesantren, hidup penuh kenyamanan walaupun tidur dilantai hanya beralaskan tikar seadanya bisa tidur nyenyak dan bangun jam tiga dini hari secara istiqomah bertahun-tahun selama di pesantren serta walaupun asupan makan terkadang dibawah standar kesehatan akan tapi kondisi fisik tetap sehat,enerjik  dan efektif dalam berbagai kegiatan  di pesantren. 

Dibalik itu semua ternyata pola hidup didikan pesantren semacam ini mampu  menghasilkan santri yang  berkarakter yang kuat dalam menghadapi problematika  kehidupan setelah tidak menetap dipesantren. Karakteri tesebut saat ini  sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang pluralis yaitu antara lain ;

1. Kebersamaan dan mau berbagi peran

Pondok pesantren mayoritas santrinya  tidak berasal satu daerah, tetapi dari berbagai daerah yang beda watak, kebiasaan dan budayanya berbeda. 

Kebersamaan dan mau berbagi dibangun dalam realita kehidupan keseharian di pesàntren selama dua puluh empat jam selama bertahun-tahun tanpa mengenal status ekonomi dan latar belakang orang tuanya dimulai kebersamaan dan berbagi tempat tidur, makan, tempat mandi, ngopi dan lain-lain tanpa menimbulkan friksi satu sama lain.

Kesadaran kebersamaan dan saling berbagi peran saat ini dapat menjadi karakter membangun team work yg kuat dlm menggapai kesuksesan bersama  baik dalam kehidupan dunia politik, ekonomi mapun sosial kemasyarakatan.

Kesadaran membangun team work yang kuat ini sudah hampir punah dalam bermasyarakat yang  berkembang adalah suburnya jiwa individualis, egoistis dan pragmatis.

Dalam dunia politik yang dibangun kesamaan kepentingan pragmatis bukan kepentingan bersama yang stategis, dalam satu partai terkadang tujuan partai  yang tersirat  dlm platform partai tidak pernah diperjuangkan sebagai komitmen bersama yang ada pengurus satu sama lain saling memperjuangkan kepentingan individu dan kelompoknya untuk meraih kekuasaan prahmatis dan tidak mampu memperjuangkan kebijakan yang bisa mensejahterakan masyarakat.

Dalam kehidupan ekonomi pun lebih ngeri lagi tidak dibangun untuk membangun  pasar yang dapat mensejahterakan pelaku ekonomi itu sendiri tapi terkadang pelaku ekonomi yang besar  membuat jebakan-jebakan yg membuat ekonomi rakyat kecil tidak bisa berkembang  dan semakin terpuruk tanpa daya.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan pun tumbuh bak jamur di musim hujan karakter su’udon, melempar info hoax, saling menghujat, sensitifisme dan mudah diadu domba yang menyulut keretakan satu bangsa serta menghilangkan karakter saling asih dan asuh dalam kehidupan bersama yang bineka tunggal ika.

Membangun team work dan berbagi peran sesuai kemapuan yang terstruktur dan tercultur dàlam bidang politik, ekonomi dan sosial kemasyarakata inilah yg sudah sering terlupakan dikalangan santri sehingga sering terseok-seok dlm menggapai tujuan bersama baik dalam bidang politik,ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

2. Kesederhanaan dan kemandirian

Kebiasaan sederhana dan mandiri dalam  keseharian baik pakaian, makan, tempat tidur  ucapan  dan tindakan yang penting cukup dan pantas sudah menjadi rutinitas kesehàrian kehidupan di pesantren.

Pola didikan sederhana banyak  melahirkan santri ealaupun hidupnya sudah sukses secara ekonomi tapi tidak menampakan pola hidup yang berlebihan dan tidak tamak dalam mengelola kehidupan ekonomi dan mayoritas santri mampu mengelola kehidupan ekonomi secara mandiri walaupun usaha yang digelutinya cukup kecil.

Kesederhaan dan kemandirian ini membuat santri tidak akan mudah terpengaruh oleh pola kehidupan pragmatis dan hedonis yang menjadi tren pola hidup masyarakat modern. Pola hidup hedonis dan pragmatis akan melahirkan manusia yang tamak,serakah dan menghalalkan segala cara untuk keberhasilan diri sendiri atau kelompoknya.

3. Ketulusan dan berpikir merdeka

Untuk bisa membaca kitab kuning maka ketika awal menjadi santri dididik salah satunya  mahir dàlam mengi’rob kalimat, disamping ilmu nahwu sorof dan lainya. Kemahiran mengi’rob sebuah kalimat dengan berbagai macam alasan keterkaitan kalimat satu dengan lainnya memberikan gambaran bahwa santri mempunyai kemampuan menganalisa berbagai permasalahan secara obyektif, kritis, konprehensif dan mendetail serta menghindari  analisis tendensius dan subyektif.

Pola pikir semacam ini di pedantren sudah dibangun oleh santri melalui berbagai diskusi atau bahsul masail secara kontinu setiap malam selasa dengan berbagai argumentasi  bersandar pada rujukan yang kredibel dan kapabel dan dalam berargumentasi selalu disàmpaikan dengan hati yang tulus ranpa nafsu dan kepentingan subyektif.

Karakter berpikir jernih dan tulus ini jarang sekali kita saksikan dalam berbagai argumentatif yang disampaikan oleh tokoh masyarakat baik lewat media soaial maupun media lainya, yang ada adalah argumentatif terselubung subyektifitas  kepentingan kelompoknya.

Kemampuan menganalisa secara tulus dengan perpikir konprehensif ini terbukti mayoritas lulusan pesantren  dijadikan rujukan masyarakat dalam mencari solusi menghadapi berbagai permasalahan di dilingkungannya.

Dengan karakter tersebut, sejak dulu sebelum kemerdekaan sampai saat ini  banyak santri yang menjadi tokoh internasional, nasional dan tokoh daerah yang berperan aktif dalam mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan masih bertahannya negara kesatuan Republik Indonesia dalam bingkai bineka tunggal ika..

Walaupun momen hari santri tahun ini tidak dirayakan secara meriah dikarenakan bangsa indonesia sedang menghadapi wabah  pandemi covid 19 bukan berarti mengurangi kehidmatan sebagai santri dalam memperkuat karakter   yàng sudah tertanam dalam jiwa raga dengan melestetarikan karakter tersebut ke  melalui mendidik anak cucu kita di pondok pesantren.

Selamat hari santri 22 oktober 2020 semoga tetap teguh menjaga NKRI dan bineka tunggal ika.

H. Zainudin

Penggarutan, Sabtu 10 oktober 2020

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *